Kamis, 02 Agustus 2018

Menjadi Seorang yang Setia

Pada akhirnya kesetiaan selalu dikalahkan. Begitulah yang terjadi pada hari ini. Dimana ada kesetiaan disitulah ada penghianatan.
Saya terlahir seperti ini, memiliki watak mudah mempercayai seseorang dan komitmen yang tinggi terhadap apa yang telah saya pilih. Walau saya tipe orang yang cepat merasa bosan, tapi saya selalu setia terhadap semua jalan dan pilihan yang saya lalui. Telah saya alami hal ini berkali-kali, meski dengan cara yang berbeda, intinya tetap sama, berakhir penghianatan. Pada saat inilah betapa saya sangat merasa terpukul seakan harga diri benar-benar terinjak-injak. Sulit untuk menerima apa yang terjadi. Semua pikiran dan kenangan saling beradu memutar balikan kepala ini. Hingga rasa percaya diri pun berkurang drastis. Menjadi segudang pertanyaan mengenai, 'apa yang salah dengan diri saya?'. Sangat terasa jika saya adalah manusia bodoh yang jauh dari kata sempurna dan dipenuhi dengan kesalahan. 'Inikah yang namanya krisis percaya diri?'
Meskipun saya tidak begitu mencintai apa yang telah saya pilih tapi rasa sakitnya tidak jauh berbeda. Jujur, saya tidak begitu mencintainya. Tapi saya tetap akan setia dan menyayanginya karna saya yang telah menentukan pilihan. Mengapa saya tidak menemukan seseorang yang benar-benar saya cintai? Jawabannya saya sudah menemukannya, namun dia tidak mungkin kembali. Saya sering berandai. Jika saya bisa, saya ingin memutar balikan waktu hingga beberapa tahun yang lalu. Karena hingga saat ini saya masih selalu memikirkannya.

Selasa, 15 Agustus 2017

Lembaran Baru


Entah kenapa saat ini aku sudah tidak bisa memilih kepada siapa aku akan jatuh cinta. Terus kucoba  mencari makna yang sebenarnya dari sebuah perasaan yang aku miliki dan telah lama aku pendam. Jika ku lihat dari banyak orang yang ada di sekitarku, mereka seakan memiliki caranya masing masing dalam merealisasikan perasaan dan cintanya. Ada yang berani menyatakannya dan berakhir bahagia, ada yang berani menyatakan namun akhirnya tak bahagia, dan ada pula sepertiku yang hanya memendam perasaannya. 
Meskipun aku telah memendam ini begitu lama bukan berarti aku tidak berbahagia. Aku sudah cukup senang dengan aku yang akhirnya bisa mengenalnya, seorang wanita yang baru saja datang dan begitu mempedulikanku, sesuai dengan apa yang ku sukai, walaupun sebatas teman biasa. Selebihnya untuk saat ini aku masih belum berani melangkah untuk lebih mendekatinya lagi. Masih sangat ragu dengan keadaanku yang kiranya masih belum membaik. Meskipun pola pikirku telah berubah jauh, namun luka ini masih tetap sama. Aku takut mengecewakannya karna aku sudah lupa bagaimana cara mencintai, bagaimana cara mengungkapkannya, dan bagaimana cara menyayangi seseorang lagi.
Terus ku lambungkan pertanyaan untuk diriku sendiri.  Apakah memang ini pilihanku? Terus bersembunyi di balik sisi lain diriku dan terus mengingkari kata hatiku. Dengan aku yang seperti ini nyatanya orang yang tadinya mengharapkanku menjadi berbalik kembali meninggalkanku. Lagi-lagi ditinggalkan.
Seiring berjalannya waktu dengan apa yang telah terjadi, kini aku mulai mengerti bahwa suatu perasaan tak perlu diungkapkan secara langsung untuk merealisasikannya. Untuk memilih siapa selanjutnya yang ada di sisiku, ku serahkan semuanya kepada yang maha kuasa. Aku yakin seiring berjalannya waktu dan perjalananku selanjutnya aku pasti akan menemukannya. Inilah alasan awal yang membuatku kini begitu bersemangat kembali untuk menjalani lembaran baru yang masih sangatlah putih dalam kehidupanku. Dulu aku terlalu sibuk hanya untuk mencari seseorang yang aku butuhkan. Namun kini aku lebih mencari seseorang yang membutuhkanku. Aku akan membuat rumahku sendiri yang berisi para sahabat yang membutuhkanku dan nantinya akan saling membutuhkan. Begitupula dengan jalan cinta ini, aku percaya suatu saat akan ada seseorang yang benar benar membutuhkan ku untuk selalu hadir disisinya. Dan alangkah senangnya jika kehadiranku baginya benar benar sangat membuatnya bahagia.

Kamis, 04 Mei 2017

UNGKAPAN HATI

Aku ingin meneriakkan segala yang telah kupendam sekian lama, namun tetaplah tidak bisa. Telah kucoba beberapa kali  dan tetap saja sangatlah sulit. Banyak orang berkata bahwa kini jiwaku sudah lenyap. Aku sendiri menyadarinya bahwa aku sudah tidak bisa mengenali siapa diriku lagi. Semuanya lenyap begitu saja. Lelah ini begitu terasa untuk menemukannya. Telah kucoba berbagai cara berdasarkan memori di masa lalu, tetaplah sulit. Semakin jauh kumencoba, semakin sulit dan tidak menentu. Aku ingin sekali berteriak atas segala yang pernah terjadi terhadapku. Menyesali semuannya pasti selalu kulakukan. Hingga kini tak terlihat adanya perbaikan. 
 Hati yang tertutup rapat pernah sesekali kubuka lagi. Namun sedikit saja kubuka sakitnya mulai terasa lagi sehingga aku harus menutupnya kembali. Luka hati yang kukira sudah sembuh ternyata masih utuh dan entah berapa lama lagi ini akan sembuh. Bagaimana mungkin aku dapat menemukan jiwaku kembali dengan hati yang seperti ini. Aku hanya terus berjalan, berlari, dan mencari tanpa adanya perasaan, seakan tanpa memiliki hati.
Sering kutanyakan dalam malam menjelang tidurku, "sebesar apakah hal yang telah menimpaku hingga aku menjadi seperti ini?". Aku selalu mengingat segalanya, namun tak pernah mampu untuk menjelaskan segalanya, bahkan terhadap diriku sendiri. Mungkin suatu saat nanti luka ini akan menjadi luka nyata yang terlihat karna sudah tak mampu mengobatinya lagi. Hingga menjadi penutup atas segala ceritaku.

(galau just for fun :-D)

Senin, 13 Maret 2017

Tertunduk Membelakangiku

www.hipwee.com


Dia hanya tertunduk membelakangiku...

***
Tiga tahun telah berlalu. Setelah aku menempuh berbagai perjalanan dan pengalaman akhirnya aku pustuskan bahwa aku akan segera pulang. Kembali ke rumah asal untuk membangun kehidupan baru. Tetap kubawa semua mimpi dan cita-cita untuk kulanjut disana. Meskipun sendiri aku akan tetap berani.

Beberapa hal pahit telah kurasakan di tiga tahun terakhir ini. Banyak yang telah menimpaku sehingga menjadi perubahan hingga diriku yang sekarang.  Aku yang dulu selalu bersinar mungkin sekarang tidak lagi bisa seperti itu. Meskipun aku tetap berusaha namun terasa semakin jauh. Kenangan masa lalu tetap membekas menutup seluruh jati diriku. Telah beberapa kali aku mencoba mengulang semuanya dari awal, namun tetaplah sama aku tak bisa.

Perjalanan yang sangat panjang akhirnya berujung buntu dan kembali ke awal untuk memulai perjalanan baru. Apakah aku telah menyerah?. Ya, aku menyerah. Aku tak sanggup lagi  menjalani semua mimpi dan cita-cita  bersama dahulu, namun menjadi sendiri sekarang. Karya tetaplah karya, mimpi tetaplah mimpi. Hanya itu yang selanjutnya ada dipikiranku.

Aku akan terus berkarya,
Meski hanya untuk sebuah mimpi.


Minggu, 25 September 2016

Sampaikanlah (Akustik)

Sumber : http://brokenrearviewmirror.com

Waktu yang terus berdetik
Sampaikan kisah ini
tentang sedihku, tentang ku yang mencoba
Bertahan setelah dia pergi

Hujan yang telah menepi
Tinggalkan embun pagi dalam sepi
tanpa yang mengerti
Suci hari akan menghilang

Bridge :
Lemah ku tak berdaya memeluknya
Angan kulepas pergi, terbang jauh tak terhenti

Reff :
Adakah angin pernah membawa satu asa
Sampaikan hingga di jiwanya
Meski dia tak menjawab, lupakan darah ini
Langit kan mengerti
Yakinlan di sana ku kan bahagia




Selasa, 30 Agustus 2016

Senin, 29 Agustus 2016

Aku dan Hariku

Sumber : xo-memories-xo.blogfa.com
Bagaimana mungkin aku dapat melampauinya. Sedangkan waktu ini dapat dikatakan sangat terlambat untuk baru memikirkannya. Tidak, itu adalah alasan untukku memulai putus asa atas semua yang telah terjadi. Sebenarnya tidak akan ada yang namanya kata terlambat selagi aku masih bisa bergerak dan bernafas. Hanya saja ingatan ini sangat mengganggu dan menghambat hampir seluruh pikiranku untuk terus maju. Ingatan ini seakan terus membawaku kembali ke belakang dan menutup mata akan semua kenyataan yang ada.

Padahal semua ini sudah berlalu sekian lama, namun mengapa perasaan ini tak kunjung memudar. Setiap waktu selalu saja terselip ingatan itu. Bisa menjadi indah dan juga menyedihkan. Tak jarang aku bisa tertawa sendiri dan tentunya menangis sendiri pula. Sebenarnya apa yang menjadikanku seperti ini? Hingga kini aku sendiri tak pernah tahu. Aku hanya tidak ingin menyerah atas keputusan yang telah kubuat sendiri.

Sungguh sangat bodoh jika semua ini  karna perasaan, apalagi jika perasaan itu adalah cinta dan kasih sayang. Namun itulah kenyataannya, Tuhanlah yang  telah menganugrahiku dengan pemilik hati ini. Akupun sangat percaya dan tidak mungkin untuk mengingkarinya. Walau hingga kini aku tidak pernah tahu mengenai apa alasannya. Aku selalu berharap perasaan ini akan segera mati dan digantikan dengan perasaan baru. Namun kenyataannya aku tidak pernah bisa. Hati ini  tidak pernah berganti, malahan semakin hidup dengan banyak luka yang tidak pernah tersembuhkan.

Sadarlah, semuanya tidak akan pernah kembali. Berhentilah untuk berharap yang tidak mungkin terjadi. Itu adalah keputusanku sendiri yang menginginkan semuanya berjalan seperti ini, maka untuk apa disesali lagi. Ya, itu memang keputusanku dan aku tidak pernah menyesalinya. Hanya saja yang kusesali adalah mengapa ini harus terjadi. Bukan keputusanlah yang kusesali, namun suatu hal jauh sebelumnya yang membuatku harus mengambil keputusan itu. Terkesan suatu keterpaksaan yang menjadikanku harus melewati jalan yang rumit ini.

Dia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin kini yang dia tahu adalah aku seorang pria pembohong, bodoh, dan tidak jelas. Atau mungkin dia telah melupakanku dan sama sekali tak lagi mengingatku. Jadi percuma jika ditangan ini masih kugenggam namanya, buat apa? dia tidak akan pernah meliahatku lagi. Begitupun dengan aku yang tidak akan pernah menemui dan menyapanya lagi. Sama sekali tidak akan pernah ku usik kehidupannya lagi. Bodohnya, mengapa aku masih selalu saja mengingatnya, bahkan aku sangat merindukannya. Lalu bagaimana rindu ini akan berakhir jika tidak ada suatu pertemuan lagi?

Telah lama aku mengetahui bahwa dia sudah  jauh berbeda, dia semakin baik seperti apa yang selalu kuharapkan dulu kepadanya. Seperti apa yang selalu ku do'a kan terhadap Sang Pencipta.  Termasuk dia yang kini sudah bahagia dan menemukan alasan untuk apa dia dihadirkan kedunia ini. Dahulu itu lah yang sering dia tanyakan kepadaku dalam bentuk berbagai pertanyaan berbeda dengan makna dan inti yang sama hingga aku sangat kesulitan untuk menjawabnya. Tak jarang pula perselisihan pun terjadi karena hal ini.

Maka pada hari ini dan hariku selanjutnya, biarkanlah semuanya tetap berjalan seperti apa adanya. Akupun berharap suatu saat nanti aku bisa seperti dia, bisa menemukan jalan dan kebahagiaanku sendiri. Dan pada hari ini pula mulai kuputuskan aku yang selalu mengawasinya dari jauh dalam diam telah berhenti karna kini aku sudah percaya bahwa dia akan baik-baik saja dan terus semakin membaik. Begitu pula dengan ku, semoga saja akupun bisa sepertinya dan menjadikan semua kenangan luka ini sebagai motivasiku untuk menjadi seseorang yang lebih kuat.

Dan jika suatu hari nanti impianku berhasil kugenggam, aku tetap tidak akan melupakannya sebagai wujud terimakasihku kepadanya.


And someday, I hope that my sadness will be replaced by something beautiful